Apakah boleh marah pada Tuhan?

Kamu marah dan sebagian dari dirimu khawatir bahwa marah pada Tuhan adalah dosa yang serius. Jawaban yang jujur — yang ternyata jauh lebih ramah daripada yang sering kamu dengar.

8 menit baca · Tim Redaksi Envoy Mission · Diperbarui 29 Mei 2026

Kalau kamu mengetik ini, biasanya kamu sudah marah — dan sebagian dari dirimu khawatir bahwa marah itu sendiri sudah masalah. Mungkin kamu pernah diberitahu bahwa orang yang sungguh-sungguh beriman tidak marah pada Tuhan. Mungkin kamu khawatir kalau Tuhan akan menambah masalah karena kamu sudah berani marah pada-Nya. Mungkin kamu hanya merasa lelah dan tidak tahu di mana harus meletakkan kemarahan ini.

Halaman ini ditulis dengan asumsi itu. Halaman ini tidak akan menyuruhmu "jangan marah, percayalah saja." Halaman ini akan memaparkan apa yang sebenarnya dikatakan tradisi Kristen — yang, sekali lagi, ternyata jauh lebih ramah daripada yang sering didengar.

Beberapa istilah dulu

Untuk pembaca tanpa latar belakang gereja:

  • Yesus dari Nazaret adalah seorang guru agama Yahudi yang hidup di abad pertama di wilayah Palestina. Klaim Kristen adalah bahwa ia juga Tuhan dalam wujud manusia. Ia dieksekusi oleh pemerintah Romawi sekitar tahun 30 M dengan metode yang disebut penyaliban.
  • Mazmur adalah kumpulan 150 doa dan puisi dalam Perjanjian Lama (bagian tulisan suci Yahudi yang lebih tua).
  • Ayub adalah salah satu buku tertua dalam Alkitab — sebuah teks Perjanjian Lama tentang seorang pria saleh yang menanggung penderitaan yang luar biasa dan mempertanyakan Tuhan dengan keras.
  • Ratapan adalah buku Perjanjian Lama yang sebagian besar adalah keluhan kepada Tuhan tentang kehancuran Yerusalem oleh Babel sekitar tahun 586 SM.
  • Salib adalah istilah pendek tradisi Kristen untuk eksekusi Yesus — eksekusi publik Romawi atas Yesus sekitar tahun 30 M.

Jawaban singkat dan jujur

Ya. Marah pada Tuhan boleh. Dan tradisi Kristen sebenarnya jauh lebih nyaman dengan kemarahan jujur daripada dengan kesalehan palsu.

Yang berbahaya bukan marah pada Tuhan. Yang berbahaya adalah menjauh dalam diam. Marah pada Tuhan setidaknya masih berbicara dengan-Nya. Diam dingin yang menjauh adalah kalau hubungan benar-benar membeku.

Mazmur — buku marah pada Tuhan

Sebelum bagian lain, ada satu fakta yang harus diketahui semua orang sebelum bertanya pertanyaan ini. Buku doa paling penting dalam tradisi Yahudi-Kristen — Mazmur — berisi 150 puisi, dan sekitar sepertiga dari mereka adalah keluhan langsung kepada Tuhan, banyak di antaranya sangat marah.

Bacalah ini, dari Mazmur 13: "Berapa lama lagi, ya TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku? Berapa lama lagi aku harus menaruh kekhawatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari?" Itu doa yang dimasukkan ke dalam tulisan suci. Bukan disensor. Bukan dilembutkan. Diabadikan.

Atau Mazmur 88, mungkin Mazmur yang paling gelap — diakhiri dengan: "Sahabat dan teman menjauh dari padaku, hanya kegelapan yang akrab dengan aku." Itu seluruh akhirnya. Tidak ada resolusi yang bahagia. Tidak ada "tapi syukur Tuhan tetap baik." Hanya kegelapan, dan itu tetap menjadi doa yang sah.

Atau Habakuk, seorang nabi yang membuka kitabnya dengan: "Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: 'Penindasan!' tetapi tidak Kautolong?" Itu pertanyaan pertama dalam kitab itu. Itu pertanyaan keras dari nabi yang bertanya mengapa Tuhan tidak melakukan apa-apa tentang ketidakadilan.

Tradisi Kristen, dan tradisi Yahudi sebelumnya, telah membuat ruang untuk doa-doa ini selama ribuan tahun. Mereka tidak disembunyikan. Mereka di tempat tertinggi dalam tulisan suci.

Ayub — pria saleh yang berbicara keras pada Tuhan

Kitab Ayub mungkin teks paling penting dalam tradisi Kristen tentang penderitaan dan kemarahan pada Tuhan. Ayub adalah pria yang digambarkan oleh Tuhan sendiri sebagai "saleh dan jujur" — pria yang paling baik di antara semua orang pada zamannya. Kemudian, melalui rangkaian peristiwa yang tidak dia ketahui, dia kehilangan semua: anak-anaknya meninggal, ternaknya hancur, kesehatannya runtuh.

Yang dilakukan Ayub setelah itu? Dia tidak menjawab dengan pasrah saleh. Dia menjawab dengan kemarahan. Dia berkata: "Sebab itu akupun tidak akan menahan mulutku, aku akan berbicara dalam kesesakan jiwaku, aku akan mengeluh dalam kepedihan hatiku."

Dia menjadi keras. Dia menuntut Tuhan menjelaskan. Dia menuduh Tuhan tidak adil. Dia hampir-hampir menggugat Tuhan ke pengadilan.

Yang penting tentang kitab ini: pada akhirnya, ketika Tuhan akhirnya berbicara, Tuhan tidak menegur Ayub atas kemarahannya. Sebaliknya, Tuhan menegur teman-teman Ayub — orang-orang yang memberi penjelasan rapi tentang mengapa Ayub menderita. Tuhan berkata kepada salah satu teman itu: "Murka-Ku menyala-nyala terhadap engkau dan terhadap kedua sahabatmu, sebab kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub." Bahasa yang luar biasa. Yang berkata benar tentang Tuhan, dalam kalimat ini, adalah orang yang mengeluh dengan keras — bukan orang yang membela Tuhan dengan teologi rapi.

Itu, dalam ringkas, posisi tradisi Kristen yang otentik: Tuhan lebih suka kemarahan jujur daripada kesalehan palsu.

Yesus sendiri menggunakan doa marah

Yang lebih menarik lagi: ketika Yesus, menurut salah satu Injil, sedang dieksekusi di salib, dia tidak berkata sesuatu yang tenang dan menyerah. Dia berteriak dengan kata-kata Mazmur 22: "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?"

Itu pertanyaan yang sama yang Mazmur tanyakan. Dan Yesus, yang oleh tradisi Kristen diyakini sebagai Tuhan dalam wujud manusia, menggunakan kata-kata itu sebagai doanya pada saat terberatnya.

Ini fakta yang luar biasa: Tuhan sendiri, dalam tradisi Kristen, telah berdoa doa marah dan ditinggalkan. Bukan Tuhan yang membaca doa orang lain. Bukan Tuhan yang menonton dari kejauhan. Tuhan yang menggunakan doa itu sebagai miliknya.

Apa pun yang artinya, satu hal jelas: kalau Yesus berdoa doa itu, kamu boleh berdoa doa itu.

Mengapa kemarahan jujur lebih sehat daripada kesalehan palsu

Banyak orang dibesarkan dengan pesan diam-diam bahwa kalau kamu marah pada Tuhan, kamu harus menyembunyikannya. Kamu harus berbicara dengan kata-kata yang sopan. Kamu harus selalu mengakhiri dengan "tapi Engkaulah Tuhan, semua tahu yang terbaik."

Tradisi Kristen yang sehat sebenarnya berlawanan dari ini, karena beberapa alasan:

Tuhan sudah tahu apa yang kamu rasakan. Berpura-pura di hadapan Tuhan tidak menutupi apa pun — itu hanya membuat hubungan tidak nyata. Yang nyata adalah berbicara dari tempat kamu sebenarnya berada.

Hubungan yang nyata mengizinkan kemarahan. Hubungan-hubungan yang sehat di antara manusia mengizinkan kemarahan diutarakan, bukan ditahan dalam diam. Antara orang tua dan anak, suami dan istri, teman dekat — mengizinkan kemarahan jujur adalah tanda hubungan yang aman, bukan tanda hubungan yang rusak. Tradisi Kristen mengatakan bahwa hubungan dengan Tuhan adalah hubungan paling dalam, dan karena itu paling aman untuk kemarahan, bukan paling tidak aman.

Kemarahan yang ditahan tidak hilang, dia menjadi pahit. Yang sebenarnya merusak iman jangka panjang bukan kemarahan terhadap Tuhan yang diutarakan. Itu kemarahan yang ditahan, yang akhirnya menjadi pahit dan beku menjadi penjauhan permanen. Mengatakannya keluar — "aku marah pada-Mu, dan inilah sebabnya" — biasanya merupakan jalan menuju kembali, bukan jalan menjauh.

Tuhan tidak rapuh. Salah satu kesalahpahaman paling berbahaya tentang Tuhan adalah bahwa Dia rapuh terhadap kemarahanmu — bahwa kalau kamu marah, kamu mungkin merusak hubungan. Tradisi Kristen mengajarkan kebalikannya: Tuhan tidak goyah oleh kemarahanmu. Dia bisa menanggungnya. Dia sudah menanggung jauh lebih banyak.

Kemarahan biasanya menunjuk ke sesuatu yang penting

Kemarahanmu bukan tanda ketidaksetiaan. Itu biasanya tanda bahwa kamu menerima sesuatu yang penting dengan serius. Kamu marah pada Tuhan karena seseorang yang kamu sayangi meninggal — itu karena hubungan itu penting bagimu. Kamu marah karena ketidakadilan tidak dihentikan — itu karena keadilan penting bagimu. Kamu marah karena doamu tampaknya tidak dijawab — itu karena kamu mempercayai bahwa Dia mendengar.

Kemarahanmu sebenarnya mengasumsikan banyak hal yang penting. Itu mengasumsikan ada Tuhan untuk dimarahi. Itu mengasumsikan bahwa Dia seharusnya mengurusi hal-hal tertentu. Itu mengasumsikan bahwa ada perbedaan antara seharusnya dan yang sebenarnya terjadi. Semua itu — paradoks — adalah asumsi-asumsi Kristen. Bahkan kemarahanmu pada Tuhan sering bekerja dengan beberapa kerangka Kristen.

Itu sebabnya kemarahan jujur sering lebih dekat dengan iman daripada acuh tak acuh sopan. Acuh tak acuh telah berhenti mempercayai bahwa Tuhan mendengarkan atau peduli. Kemarahan masih percaya itu, sangat — itu sebabnya mengganggumu bahwa hal-hal terlihat berlawanan.

Cara menangani kemarahan ini

Tradisi Kristen sebenarnya punya panduan praktis tentang kemarahan ini. Beberapa hal yang sering membantu:

Katakan dengan kata-kata sendiri. Tidak perlu doa formal. "Tuhan, aku marah karena ini. Aku tidak mengerti. Aku merasa Engkau tidak ada saat aku paling butuh." Itu doa yang lengkap.

Pakai doa-doa marah yang sudah ada. Mazmur 13, 22, 73, 88, atau seluruh kitab Ratapan. Banyak orang, ketika kata-kata mereka sendiri tidak cukup, menggunakan doa-doa ini sebagai milik mereka. Itu salah satu alasan teks-teks ini diabadikan — agar generasi-generasi mendatang punya bahasa untuk saat-saat seperti yang kamu alami.

Bicarakan dengan seseorang yang bisa duduk dengannya. Yang berbahaya bukan kemarahan; yang berbahaya adalah isolasi. Cari satu orang yang tidak akan langsung mencoba memperbaikinya — orang yang akan duduk dengan kemarahanmu tanpa terganggu. Kalau kamu tidak punya orang seperti itu, halaman ini juga bisa menjadi pintu untuk itu.

Jangan terburu-buru menuju resolusi. Ada godaan untuk segera berkata "oke, aku merasa lebih baik sekarang, biarkan aku tenang." Itu sering kembalinya kesalehan palsu. Kemarahan yang nyata butuh waktu untuk diutarakan, diakui, dan akhirnya, kadang-kadang, dilepaskan. Tidak harus sekarang.

Tetap dekat dengan Yesus. Yang berbahaya bukan marah pada Tuhan. Yang berbahaya adalah menjauh dari Yesus karena marah pada Tuhan. Pertahankan koneksi. Beritahu Yesus tentang kemarahanmu — Dia, dalam klaim Kristen, sudah berdoa doa marah sendiri. Dia mengerti.

Apa yang terjadi pada akhirnya

Banyak orang yang melewati musim kemarahan pada Tuhan, dan keluar dari sisi lain dengan iman yang lebih dalam — bukan karena pertanyaannya terjawab, tetapi karena hubungan itu sendiri menjadi lebih nyata. Hubungan yang sudah menanggung kemarahan adalah hubungan yang lebih nyata daripada hubungan yang tidak pernah mengizinkannya.

Sebagian orang lain tidak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan untuk "mengapa," tetapi menemukan bahwa Tuhan masih ada — diam, mungkin, tapi ada. Itu juga jenis resolusi, meskipun bukan jenis yang menyenangkan.

Tidak ada yang berbohong tentang ini. Beberapa orang melalui musim marah dan tidak pernah kembali. Tetapi yang menarik tentang tradisi Kristen adalah seberapa sering ia berkata bahwa kembali itu mungkin, dan diundang.

Dan sekarang?

Kalau kamu sedang berada di tengah kemarahan yang spesifik — sesuatu yang nyata, bukan kemarahan teoretis — kamu bisa membicarakannya. Obrolan kami gratis, pribadi, dan dalam bahasamu. Kamu yang memulainya; kamu yang mengakhirinya kapan saja. Kamu tidak perlu sudah tenang untuk hadir.

Kalau kamu sedang berada di titik di mana kamu memikirkan untuk menyakiti dirimu sendiri, tolong hubungi layanan krisis. Di Indonesia: 119 ext 8 (Halo Kemenkes — layanan kesehatan jiwa).

Dari mana ini di dalam Alkitab

  • Mazmur 13:1–2"Berapa lama lagi, ya TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus?"
  • Mazmur 88 — Mazmur paling gelap, diakhiri dengan kegelapan tanpa resolusi
  • Ratapan 3:1–20 — keluhan keras tentang kehancuran Yerusalem
  • Ayub 7:11"akupun tidak akan menahan mulutku, aku akan berbicara dalam kesesakan jiwaku"
  • Ayub 42:7 — Tuhan menegur teman-teman Ayub bukan Ayub atas kemarahannya
  • Markus 15:34 — Yesus berdoa "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?"
  • Mazmur 22:1 — Mazmur asal dari kata-kata yang Yesus pakai

Pertanyaan terkait

Terus jelajahi